Menhub Serahkan Sepenuhnya ke KNKT Soal Investigasi Tenggelamnya KMP Tunu

bursatourstransfer.com – Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan bahwa seluruh investigasi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya diserahkan sepenuhnya kepada KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). Pernyataan ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah agar proses penyelidikan berlangsung profesional, transparan, dan berbasis pada data teknis. Dengan fokus pada keselamatan penumpang dan evaluasi prosedur, Menhub juga menginstruksikan percepatan evakuasi dan operasional SAR yang saat ini sedang berlangsung intensif di Selat Bali.

Alasan utama Menhub memilih menyerahkan sepenuhnya ke KNKT karena lembaga ini memiliki otoritas hukum dan teknis sesuai UU No.17/2018. KNKT bertugas mengumpulkan data dari pelayaran, ABK, kondisi kapal, catatan perawatan, cuaca, hingga alur pemuatan kendaraan—semua berfungsi menyusun analisis objektif investigasi jalur laut.

Selain itu, penyerahan ke KNKT juga mengirim sinyal tegas bahwa keselamatan penumpang menjadi prioritas tertinggi. Artinya, bukan hanya soal menebus kerugian, tapi juga menyusun roadmap preventif agar insiden serupa tak terulang.

Peran KNKT dalam Investigasi Serupa

KNKT telah menangani berbagai kasus kapal tenggelam sebelumnya—seperti KMP Yunicee tahun 2021—dengan metode investigasi menyeluruh termasuk pencocokan manifes dan wawancara mendalam terhadap saksi.

Tim investigator akan mengecek:

  1. Riwayat pemeliharaan dan perawatan kapal —cek dokumen dan pengujian laik laut.

  2. Kondisi cuaca & gelombang laut pada saat insiden terjadi.

  3. Prosedur keselamatan seperti SOP evakuasi, jumlah pelampung dan jalur penyelamatan.

  4. Data teknis mesin, muatan kendaraan dan kapasitas penumpang untuk mengindentifikasi faktor overloading atau kerusakan teknis.

Investigasi ini bertujuan merumuskan rekomendasi konkret bagi regulasi, standar kapal penyeberangan, dan pengawasan operasional pelayaran.

Respons Kemenhub & Upaya Evakuasi

Sementara investigasi berlangsung, Menhub Dudy tetap memprioritaskan operasi SAR dan evakuasi korban yang dipicu oleh gelombang tinggi 2–2,5 meter dan arus kuat di lokasi tragedi.

Diplomasi koordinasi dilakukan dengan:

  • Basarnas, TNI–Polri, Syahbandar, KPLP, ASDP dan pihak KNKT melalui Kantor Pencarian dan Pertolongan.

  • Penambahan aset SAR seperti kapal Polairud, helikopter, dan drone bawah laut demi mempercepat pencarian.

  • Instruksi Menhub agar proses dijalankan dengan keamanan tinggi, tidak mengesampingkan keselamatan tim penyelamat

Operasi ini telah berhasil mengevakuasi puluhan penumpang selamat dan jenazah korban, tapi masih menyisakan beberapa nama yang belum ditemukan—hingga proses investigasi selesai.

Tantangan dan Harapan Publik

Tragedi ini juga memunculkan kekhawatiran publik terhadap tata kelola transportasi laut. Ketua DPR Puan Maharani bahkan mendesak perbaikan sistem keselamatan tanpa kompromi, termasuk peningkatan inspeksi berkala, manifest penumpang, dan ketersediaan alat darurat.

Dikesempatan lain, Sudjatmiko (Komisi V DPR) meminta Badan SAR agar terus mengoptimalkan pencarian serta memastikan hak korban terpenuhi. Kondisi ini menegaskan bahwa kecelakaan kapal bukan sekadar kasus teknis, namun juga menyangkut hak sipil dan sosial masyarakat.

Dari sudut teknis, proses investigasi KNKT disebut bisa memakan waktu 3–4 bulan—tergantung apakah bangkai kapal bisa diangkat untuk pemeriksaan lanjutan.

Dengan menyerahkan penyelidikan ke KNKT, Menhub menegaskan dua hal: keseriusan dalam mencari akar penyebab dan komitmen menjaga objektivitas prosedur. Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali seharusnya menjadi momentum evaluasi keselamatan transportasi laut, agar tragedi serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.

6 Korban Tewas KMP Tunu Pratama Jaya Dipulangkan ke Jatim, Haru Menyelimuti

bursatourstransfer.com – Musibah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali masih menyisakan duka mendalam. Hingga Kamis (3/7), enam jenazah korban tewas berhasil diidentifikasi dan proses pemulangan ke kampung halaman di Jawa Timur telah dimulai. Kisah pilu ini memberikan gambaran nyata betapa beratnya kehilangan bagi keluarga para penumpang. Berikut ulasan lengkap, dari evakuasi hingga pemulangan—serta perkembangan terkini dari tim SAR dan dukungan pihak berwenang.

Evakuasi & Identifikasi Korban

Tim SAR gabungan—melibatkan Basarnas, TNI AL, Polri, dan Polda Jatim—telah bekerja selama puluhan jam dalam kondisi cuaca dan gelombang tinggi mencapai 2,5 meter untuk menyisir lokasi tenggelamnya kapal Rabu malam. Dalam operasi tersebut, 29 penumpang berhasil diselamatkan, sedangkan enam orang lainnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

RSU Negara di Jembrana menjadi pusat evakuasi bagi jenazah. Jenazah sempat menjalani pemeriksaan luar oleh tim dokter dan Dokkes Polri untuk identifikasi resmi. Dua jenazah pertama tiba Kamis siang, dan dilanjutkan hingga sore, termasuk jenazah seorang balita berusia 3 tahun bersama ibunya, menambah duka keluarga di Banyuwangi.

Proses Pemulangan ke Jatim

Setelah proses identifikasi selesai, keenam jenazah dipulangkan ke Jawa Timur menggunakan 5 unit ambulans ASDP, dari RSU Negara menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Di Ketapang, jenazah diserahkan ke keluarga masing-masing—beberapa keluarga datang langsung ke rumah sakit, sementara lainnya menjemput di pelabuhan.

Pemulangan ini dilakukan secara khidmat dan terkoordinasi, termasuk jenazah ibu dan anak menggunakan ambulans bersama. Langkah ini menjadi momen haru, menggambarkan duka mendalam sekaligus rasa lega keluarga mendapat kepastian identitas.

Identitas & Kisah Korban

Dalam keenam jenazah teridentifikasi terdapat nama-nama seperti:

  • Elok Rumantini (34), Banyuwangi

  • Afnan Aqiel Mustafa (3), balita dari Desa Tampo, bersama ibunya Fitri April Lestari (33)

  • Anang Suryono (59), Eko Sastriyo (51), dan Cahyani (45) — semuanya warga Jawa Timur

Kisah ibu dan anak yang ditemukan berdekatan di laut menimbulkan jurai air mata drama kemanusiaan. Direktur RSU Negara, dr. Ni Putu Eka Indrawati, menyatakan bahwa kedekatan fisik saat evakuasi turut menjadi momen haru di lokasi.

Dukungan Warga & TNI‑Polri

Polda Jawa Timur mengerahkan 6 kapal Polairud, helikopter, dan drone bawah laut di bawah pengawasan Kapolda Irjen Nanang Avianto—semua terkait operasi pencarian korban tenggelam ([turn0search3],[turn0search11]). Polres Banyuwangi juga turun tangan memperkuat pos SAR di Ketapang, sambil melakukan koordinasi dengan Basarnas dan TNI AL.

Presiden Prabowo Subianto, meski sedang berada di Arab Saudi, langsung menginstruksikan prioritas terhadap penyelamatan dan evakuasi korban melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Di tingkat provinsi, Gubernur Jatim Khofifah menyampaikan bela sungkawa dan mengerahkan BPBD untuk membantu layanan keluarga korban.

Dampak Kemanusiaan & Tindakan Lanjutan

Kejadian ini menimbulkan trauma mendalam bagi keluarga korban yang menunggu kabar selama bertahan di pos SAR Ketapang. Juga berdampak pada komunitas di Banyuwangi dan Jembrana yang merasa kehilangan sekaligus terdorong untuk saling bergotong royong saat evakuasi berlangsung.

Kemnaker dan Disnaker setempat diminta mendata korban yang tergolong pekerja atau nelayan, untuk memberi santunan dan dukungan psikologis kepada keluarga. Ke depan, pihak berwenang berencana memperketat inspeksi teknis kapal khususnya pada pengecekan mesin dan sistem kelistrikan agar tragedi serupa tak terulang.

Proses pemulangan 6 korban KMP Tunu Pratama Jaya ke Jawa Timur adalah momen penuh haru dan empati tinggi. Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan transportasi laut, kecepatan respons SAR, dan dukungan komprehensif bagi keluarga korban. Semoga kejadian ini memicu perbaikan regulasi, dan keluarga yang ditinggal dapat diberi ketabahan dan bantuan penuh.